Prostitusi Syariah Sebagai Solusi Sosial (part I)

Menurut kodratnya, selain sebagai makhluk individual manusia juga sebagai makhluk sosial artinya ia selalu membutuhkan masyarakat dalam kehidupannya. Harus ada pergaulan, saling kenal, kerjasama dalam memakmurkan dunia. Allah berfirman, Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. ( QS. Al-hujurat: 13) ayat ini merupakan himbauan untuk saling berinteraksi, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam lapangan pergaulan, baik di tempat kerja, tempat belajar, atau pada acara-acara tertentu, terkadang terjalin hubungan asmara antara lawan jenis yang biasanya berlanjut dengan pacaran. Hubungan ini terkadang berlanjut pada perkawinan. Allah sendiri tidak menafikan perasaan tersebut, tapi lacur ketika ikhtilath (pergaulan) itu mencipkatan perbuatan yang tidak senonoh yang dilakukan oleh pasangan yang belum menikah bahkan dilakukan oleh pasangan yang telah bersuami atau beristri atau dengan istilah bobo’ siang dan yang lebih mengenaskan lagi tindakan tersebut terjadi pada bulan suci Ramadhan.

Ketika kita menyaksikan berita di televisi seperti Buser, Patroli, TKP, Sidik dan lain-lain, kita akan disuguhkan dengan suatu peristiwa yang membuat kita tercengang dan mengelus dada dengan banyaknya pejabat pemerintah yang melakukan tindakan amoral dengan bawahannya, baik itu dilakukan dengan hanya berdasarkan just for fun saja atau didasari cinta, sehingga banyak janin yang tidak mempunyai dosa di buang di tempat sampah, sungai dan comberan, sekaligus menjamurnya warung remang-remang ditepi jalan-jalan yang memberikan pelayanan plus, ini seiring dengan mulainya membludaknya wanita-wanita malam yang nongkrong di tepi-tepi jalan sambil menjajakan tubuhnya yang hangat. Entah sudah menjadi Tren atau bagaimana, setiap menjelang Bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya wanita-wanita malam tersebut semakin banyak saja. Fenomena semacam inilah yang lagi Booming dalam kehidupan masyarakat kita. Selanjutnya timbul pertanyaan dimanakah pengaruh agama di dalam kehidupan masyarakat kita?. Menurut penulis mengapa kita tidak melakukan pemikiran ulang terhadap hukum perkawinan dan syariah di tanah air. Dimana pada tataran praktek syariah bukan lagi sebagai pembimbing dalam kehidupan tapi sudah sebagai polisi yang siap menerkam siapa pun yang bersalah. Seperti kasus pada baru-baru ini di Aceh, hanya gara-gara menonton film biru sepasang pemuda dijatuhi hukuman cambuk, yang menurut hemat penulis menonton film biru bukanlah merupakan kesalahan yang fatal dan tidak merugikan pihak manapun. Disamping itu kita seyogyanya mempertimbangkan pemikiran-pemikiran ulama Saudi Arabia tentang nikah Mis-yar dan Frendy sebagai suatu alternatif.

Nikah mis-yar atau juga nikah perjalanan, yaitu perkawinan yang tidak mengikat sang suami untuk tinggal serumah dengan istri. Dalam nikah mis-yar, sang istri menafkahi suami dan tidak menuntut apa-apa dari suami kecuali kebutuhan biologis. Demikian juga sang suami boleh tinggal di luar rumah, ia boleh datang beberapa kali dalam seminggu atau sebulan sekali. Menurut hasil ijtihad ulama fiqih Arab Saudi penikahan seperti itu boleh dilakukan namun dengan syarat yang sangat ketat dan harus sesuai dengan syarat dan rukun nikah. Jika tidak maka tidak sah. Sementara nikah Frendy (teman) adalah nikah pertemanan. Tidak ada tuntutan hak dan kewajiban. Kebanyakan pernikahan frendy dilakukan oleh suami atau istri yang punya kesibukan tinggi, sehingga hanya punya waktu pertemuan yang sangat singkat ulama Saudi memperbolehkan melakukan kedua pernikahan itu pada saat darurat saja dan kedua pernikahan tersebut sebagai upaya untuk menghindarkan perzinahan yang semakin marak terjadi. Islam adalah agama yang empiris dan praktis. Islam tidak menafikan ketertarikan dan cinta kasih antar lawan jenis, sebab hal itu merupakan fitrah manusia.

 

13 Balasan ke Prostitusi Syariah Sebagai Solusi Sosial (part I)

  1. jeng-ngah berkata:

    hoalah.. kang.. kang…
    mbok jangan perlihatkan kalo kadang panjenengan double standart. ndak istiqomah, kata primus (pria musholla).
    ini media publik, harus jelas pada satu permasalahan panjenengan berdiri di titik mana.
    saya hanya melihat pada isu gender (bukan emansipasi) panjenengan berada pada dua sisi yang berbeda, untuk tidak secara lebih ekstrim bilang: plin-plan. inkonsisten.
    masih inget kan… bagaimana panjenengan mengomentari tentang poligami…

  2. Dee berkata:

    Justru karena ini media publik kita harus berdiri di tengah-tengah.
    semua masalah atau ide-ide yang muncul harus kita tanggapi secara rasional. baik poligami atau prostitusi syariah harus kita pikirkan dengan baik apakah itu dapat mengatasi masalah sosial yang muncul di masyarakat.
    kalaupun prostitusi syariah ini bisa dilaksanakan (tidak melanggar aturan agama) mungkin bisa menjadi solusi.
    Toh yang diuntungkan adalah kedua pihak laki-laki dan perempuan.

  3. anti-kemapanan berkata:

    nah kalo nikah aja aturannya makin lama maikn bebas, itu kan sama saja dengan kumpul kebo tapi pake surat resmi dari pemerintah, atau sama saja dengan menggunakan pelacur tapi ada legalitas agama. wong cuma 2 kali seminggu atau sebulan tanpa tanggung jawab apa-apa. apa bedanya sama sewa pelacur? jadi inikah yang disebut dengan bermain-main dengan agama? sebagai salah satu tanda mendekatnya kita pada kiamat.

  4. Mz Fer berkata:

    @ Jeng-ngah : sebenarnya bukan permasalahn poligami atau prostitusi yang diangkat dalam tulisan di sini. melainkan opini orang lain tentang hal tersebut. tidak bermaksud menjaustifikasi benar dan salah. semua tergantung kembali pada kita sebagai orang yang dapat mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk.

    @Dee : memang benar, sebaiknya kita berdiri di tengah dan ditanggapi dengan rasional. Trims…

    @anti kemapanan : whatever lah namanya, yang jelas pernikahan main-main atau kumpul kebo memang salah satu tanda munculnya kiamat. legalitas agama dipertanyakan. tapi bagi kita, hendaknya menyikapi dengan arif dan bijaksana. terserah orang mau berbuat apa, kemabalikan pada hati nurani kita masing-masing.

    Trimakasih untuk semuanya dan juga Kaji Bokir.

  5. presiden berkata:

    oooo….
    pelacuran itu sebagai salah satu tanda munculnya kiamat to…. baru tau aku….
    pada masa nabi dulu kan dah ada pelacuran, berarti tanda kiamat sebenarnya dah ada dari dulu yach….
    oooooo….. gitu…..
    ya….ya…. ya… i know….

  6. pujangga bermulut pedas berkata:

    Menurut saya pribadi, yang bersangkutan (rekan saya Kaji Bokir) memang kurang konsisten alias ledha-ledhe. Lha wong beliau pernah menyatakan bahwa daripada berzina lebih baik ngesot aja kok!

  7. pujangga bermulut pedas berkata:

    Teruntuk presiden, mohon kegemarannya akan mabuk-mabukan dan berzina distop dulu. Maklum saya merasa belum siap lahir bathin menghadapi datangnya kiamat. Terima kasih.

  8. presiden berkata:

    buat pujangga bermulut pedas:
    Jangan menyebar fitnah yach….
    ndak suka aku…
    harusnya Anda bisa menjaga kredibilitas saya sebagai presiden…
    bukan sebaliknya….
    presideng ndak pernah berzinah…
    paling banter ngem….p…. (sensor)😀

  9. vb4art berkata:

    NGAWUR semua…..Tunggu saja azab menimpa kalian yang mengolok2 agama/Islam….kalo ndak di dunia ya di akhirat sono……

  10. vb4art berkata:

    kalo gak percaya ya mati dulu…masuk kubur nah baru lo bisa buktikan bener apa kagak….

  11. bondet berkata:

    asap saja kok takut to mas !
    Bau asap satenya Pak Timan kae toh malah suedep kok. Rak yo podo poso toh ? selamat berpuasa agar tidak kena azab Allah.

  12. ocid berkata:

    saya kira harus ada solusi dari pemerintah guna menangani masalah pelacuran yang ada dimana-mana dan harus diatur oleh negara supaya tidak terlantar atau mungkin dikasih lapangan kerja yang layak guna menghidupi keluargaya yang halal dan baik

  13. Anonim berkata:

    Ngawur….ulama saudi siapa? sebut namanya, bagaimana mempergunakan Ushul FIqhnya? Naudzubillah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s