Chemistry of Love

“Cowok ideal gue? Yang pasti haruslah cakep, tinggi, putih, punya bodi atletis, dan agak-agak indo gitu lah. Selain itu, doi harus sayang sama gue en keluarga gue plus mau nerima gue apa adanya.” celoteh salah satu cewek yang nongkrong di sebuah kafe bareng sohib-sohibnya. “Duh non, kok kriterianya banyak banget sih? Kalau terlalu milih-milih ntar bisa jadi perawan tua loh.” salah seorang temannya menimpali. “Ya sebenarnya gak harus memenuhi semua kriteria yang tadi gue sebutin sih. Yang penting chemistry di antara kita berdua cocok.” terdengar yang ditanya menjawab dengan santai. Mendengar percakapan sekumpulan kaum hawa tersebut, Aa’ Ndutz –yang sedari tadi duduk di salah satu pojok kafe sembari menikmati segelas es cappuccino manis nan encer– mengeryitkan dahinya. Chemistry? Chemistry of Love? Duh!

Sembari menyalakan sebatang rokok kretek kesayangannya, Aa’ Ndutz mencoba mengingat-ingat pelajaran yang didapatnya semasa menimba ilmu di bangku kuliah. Setelah cukup lama memindai modul-modul memori di otaknya –yang sudah mulai menurun performanya karena digerogoti oleh usia, maklum belum generasi 64-bit–, akhirnya fungsi searching yang dijalankannya menghasilkan sebuah entry: feromon! Feromon? Apaan tuh? Feromon adalah salah satu hormon yang dihasilkan oleh hewan. Fungsi utama hormon ini adalah sebagai transmiter kimia untuk menarik perhatian lawan jenis, jadi bisa dibilang sebangsa love hormone. Pada hewan tingkat rendah –hewan yang tidak bertulang belakang (avertebrata)– seperti halnya serangga, bisa dibilang feromon merupakan faktor utama yang memicu proses kawin (mating). Contohnya pada ngengat, ngengat betina yang telah siap kawin akan mengeluarkan feromon yang kemudian akan terbawa oleh angin sampai berkilometer-kilometer jauhnya. Transmiter kimia ini kemudian akan ditangkap oleh ngengat jantan dengan menggunakan antenanya, selanjutnya –bak perluru kendali berpenuntun laser– ngengat-ngengat jantan akan berterbangan mengikuti jejak feromon tersebut untuk menemukan sang ngengat betina. Jadi, bisa dibilang bahwa indera penciuman (reseptor kimia) merupakan indera yang paling berperan dalam penentuan pasangan kawin.

Pada hewan tingkat tinggi–hewan bertulang belakang (vertebrata)–, feromon bukanlah satu-satunya faktor dalam penentuan pasangan kawin. Selain indera penciuman, Sang Khalik telah menambahkan indera penglihatan (reseptor cahaya), indera pendengaran (reseptor suara), indera perasa (reseptor sentuhan), serta insting dalam preferensi pemilihan pasangan kawin. Dalam struktur sosial burung merak, burung merak jantan yang mempunyai bulu ekor mengembang dengan warna menarik akan dianggap sebagai “cowok keren” oleh merak betina. Sedangkan kelelawar lebih mengandalkan indera pendengarannya dalam menemukan pasangannya. Seperti yang kita tahu, ikan dilengkapi dengan indera perasa bernama gurat sisi, dimana dengan indera tersebut ikan dapat merasakan segala sesuatu perubahan di dalam air, termasuk mendeteksi keberadaan pasangannya. Dalam dunia hewan, insting juga adalah salah satu faktor yang menentukan dalam penentuan pasangan kawin. Persaingan untuk mendapatkan pasangan kawin merupakan alasan yang kerap melandasi pertikaian diantara pejantan, karena betina cenderung memilih pejantan tangguh sebagai pasangan kawin. Nah, makanya kalau lagi bersaing merebut hati sang pujaan jangan pakai acara berantem segala ya, kayak hewan aja!

Lha kalau pada manusia? Apakah tubuh manusia juga memproduksi love hormone? Menurut ilmu taksonomi, manusia merupakan anggota kelas mamalia alias hewan menyusui. Nah, berhubung Sang Khalik memberikan mandat kepada manusia sebagai khalifah di kolong langit, maka manusia di anugerahi cipta, rasa, dan karsa untuk membedakannya dengan hewan. Kembali ke pertanyaan di atas, beberapa ahli meyakini bahwa manusia juga memproduksi feromon. Feromon tersebut dikeluarkan oleh pori-pori kulit bersama keringat. Lalu apakah feromon juga berperan dalam penetuan pasangan hidup manusia? Menurut Aa’ Ndutz hal tersebut mustahil dijawab. Mengapa? Karena selain mengandalkan indera yang dimilikinya, manusia juga menggunakan perasaan dalam menentukan pasangan hidupnya. Nah, hal yang satu ini yang membedakan kita dengan hewan! Makanya jadi manusia jangan suka gonta-ganti pasangan seenaknya, kayak kambing aja! Perasaan inilah yang pada akhirnya menimbulkan sebuah misteri besar bertajuk cinta! Duh! Kata orang cinta itu misterius, bahkan persamaan matematis yang paling rumit pun tidak akan mampu untuk sekedar menyamai kerumitan cinta.

Cinta bisa mendatangkan kebahagiaan, namun juga bisa menimbulkan kesengsaraan hidup. Misteri inilah yang kemudian mendorong lahirnya kisah-kisah kesohor macam Laila Majnun atau Romeo and Juliet. Sebagian yang telah menemukan pasangan hidupnya sering mengklaim cinta sebagai anugerah, sedangkan sisanya yang masih menyandang status jomblo –baik yang masih dalam proses pencarian hingga yang sudah melakukan pengejaran tanpa ujung– kerap memandangnya sebagai penderitaan tanpa akhir. Duh! Namun apapun yang ditimbulkan oleh cinta, kita harus menerimanya sebagai anugerah yang tidak ternilai dari Sang Khalik. Mengapa? Bayangkan kalau untuk menemukan pasangan hidupnya manusia hanya mengandalkan feromon, seorang gadis yang sedang mencari pasangan hidup cukup tidak mandi selama tiga hari berturut-turut, alhasil akan berdatangan jejaka-jejaka yang mengendus bau yang ditebarnya. Sekali lagi, duh! “Some people perceive love as a gift from the God; others see it as an evil deceit; and the rest believe it as a mere bitter reality.” (by Aa’ Ndutz)

3 Balasan ke Chemistry of Love

  1. preside berkata:

    fotone AA ndut mana?

  2. preside berkata:

    preside tak update

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s